mencoba merubah arti cinta fikiranku, mengganti ketika apa yang aku harus marah. melawan angin malam dimana dia selipkan ribu-ribu rindu. mengais belas tuhan di tetes-tetes air mata. karat.. ya.. menguat karatan heran dalam ingatan. menyusup sendi dan rongga dan harus kuteriakkankah ‘persetan’? tak bisa. disini aku mengerti. mungkin tak yakin hatinya untukku dan punyaku. berat.. dia terlihat melihat banyak musibah denganku. tak apa.. aku sangat mngerti sekali… aku hanya akasia yang tak bermakna dan tak punya jarak antara.. tak bermakna.. tidak..

hidup itu hanya singgah.. dan hitam..

manusia bukanlah tuhan yang segala maha..

kau lantarkan aku terpuruk dalam kehidupan..

ciumlah, ketika aku tinggal hampa..